Kamis, 28 Juli 2022

Gender Equality in Islam

 


Kaum laki-laki dan perempuan beriman sama saja tugasnya dalam amal ma’ruf dan nahi munkar. Sebagaimana dalam (Q.S At-Taubah:71-72),menjelaskan tentang jaminan dan kedudukan yang sama di hadapan Allah diantara mukmin laki-laki dan mukmin perempuan.  Laki-laki dan perempuan sama-sama memikul kewajiban dan sama-sama mmendapat hak yang sama. Lebih jelas lagi bahwa dalam kehidupan moderen beberapa hal bukan saja laki-laki yang menjadi pemimpin  tetapi perempuan juga memiliki andil dalam kepemimpinan.

Laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang berat, yaitu dalam meneggakan agama (amal ma’ruf). Meneggakan kebenaran dan keadilan, mengokohkan ahlak yang tinggi dalam pembangunan masyarakat. Demikian juga dengan Nahi Munkar, laki-laki dan  perempuan memiliki tugas yang sama untuk menceggah kemungkaran yang bisa menjatuhkan mutu masyarakat dan merusak ahlak, mengacaukan ketentraman yang telah diteggakan.

Laki-laki dan Perempuan memiliki tugas yang sama dalam menjalankan sholat dan  mengeluarkan zakat. Selain itu perempuan juga berpuasa seperti halnya laki-laki, dan wajib berhaji seperti laki-laki. Baik didalam rumah tangga maupun dalam masyarakat umumnya.

Laki-laki dan perempuan saling melengkapi, seperti halnya, dibalik laki-laki yang sukses ada perempuan hebat di belakangnya. Bahwa suksesnya seorang laki-laki karena di dalam perjuangannya mencapai kesuksesan ada peran besar seorang perempuan, yang mendukung dan mendorong laki-laki untuk terus berjuang sampai pada titik kesuksesan. Sebagaimana dijelaskan dalam (QS al-Baqarah: 187), (Para istri) mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.

Disini dapat dipahami  sebuah perkataan yang terkenal, bahwasanya perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, baiklah suatu negara, dan jika perempuannya rusak, maka rusaklah suatu negara. Perempuan adalah tiang, dan biasanya tiang rumah tidak terlalu kelihatan. Jika rumah sudah miring, periksalah tiangnya.

Laki-laki dan perempuan akan menjadi penolong untuk sebagian lainnya, saling menjaga, saling membela dan saling menyemangati.  

                                                         L.R.H

 

Perempuan dalam Perspektif Islam

 

Perempuan merupakan manusia yang sangat terhormat dalam Islam. Jauh sebelum di Barat ada gerakan persamaan hak anatara Laki-laki dan Perempuan, Islam sudah menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama.  Hal ini sesuai dengan al Quran surah Al Baqarah ayat 228 dan an Nahl ayat 97.

Dalam sejarahnya, bisa dikatakan bahwa Islam lah yang membebaskan dan  mengangkat  perempuan dari penindasan dan keterpurukan. Sebelum Islam datang Arab telah dikungkung dengan tradisi Jahiliyah. Pada masa Jahiliyah  perempuan dianggap sebagai malapetaka dan dikubur hidup-hidup. Perempuan hanya bernilai sebagai budak dan pemuas kelamin lelaki. Selain daripada itu Perempuan tidak diberi warisan, karena harta warisan hanya diperuntukan untuk kaum lelaki saja. Dengan datangnya Islam merupakan kabar gembira bagi perempua karena marwah dan harkat martabat perempuan dimuliakan.

A.    Perempuan sebagai Mitra Hidup Laki-laki

Jauh bertentangan dengan masyarakat Jahiliyah yang menjadikan perempuan sebagai  budaknya laki-laki, sedangkan Islam menjadikan perempuan sebagai mitra yang sejajar dengan laki-laki. Sebagai mitra yang sejajar artinya kedua mahluk tersebut saling membutuhkan antar satu sama lainya. Seandaiya Allah hanya menciptakan satu golongan dari laki-laki maka tidak akan berkelanjutan kehidupan di muka Bumi ini karena reproduksinya akan terhambat. Itu artinya Allah menciptakan laki-laki dan Perempuan sebagai usaha untuk saling mengisi, sehingga perbedaan laki-laki dan perempuan hanya soal jenis kelamin, bukan soal nilai. Secara nilai baik laki-laki dan  perempuan sama dimata Tuhan. Allah sendiri yang mengatakan dalam firman-Nya;

“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaaNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan diantaramu rasa Kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir ” (QS Ar Rum:21)

Kesejajaran laki-laki dan Perempuan yang paling sederhana dapat dilihat dalam kehidupan rumah tangga, dimana rumah tangga tidak mungkin dilakukan sendiri tanpa pasanganya. Tidak mungkin seorang suami melakukan semua pekerjaan rumah tangga mulai dari mencuci piring, masak, memandikan anak, dan bekerja dst, begitu pula seorang istri tidak mungkin melakukan semua pekerjaan tersebut tanpa adanya tanggungjawab ataupun peran suami dalam rumah tangga. Sebagai mitra yang sejajar anatara laki-laki dan perempuan harus bisa memainkan peran yang sama dalam upaya membangun keharmonisan rumah tangga. (Mahmudah, 13/10/2016). Atas dasar itu Islam tidak mengenal diskriminasi anatara laki-laki dan perempuan, semuanya sam dihadapan Allah, kalau ada perbedaan antara keduanya, maka itu terletak pada jenis kelamin, fisik dan tugas-tugas yang berdasarkan jenis kelamin tersebut. Sebagai sama-sama hamba Allah, perempuan sama seperti halnya laki-laki, dirinya juga memiliki kewajiban  mengajak manusia pada keimanan, Salat, Puasa, Zakat, Haji, Menuntut Ilmu,  dan perbuatan baik lainya sebagimana yang diajarkan oleh agama.  Hanya Islam agama yang benar dan yang diridhai  Allah Swt. Sebagaimana firmaNya;

“Sesungguhnya agama yang diridhai (benar) disisi Allah hanyalah Islam”

(QS Ali Imran:19)

Dalam konteks keluarga, baik laki-laki dan perempuan mempunya hak dan kewajiban, sebagai anggota keluarga seorang perempuan mempunyai kewajiban untuk  taat dan berbakti kepada kedua orangtua, taat kepada suaminya,  menjaga anak-anak, menjaga harta suaminya dst.

                                                                   L.R.H

Minggu, 23 Agustus 2020

PELATIHAN KEPENULISAN

Penulisan Karya Fiksi

 

Merujuk pada apa yang telah dijelaskan oleh Yunda Rikha Ikke pada kegiatan pelatihan kepenulisan pada tanggal 23 Agustus 2020 ini, sebelum menulis karya fiksi, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu sastra beserta jenis-jenis karya sastra (puisi dan prosa).

Mengapa karya sastra itu diperlukan? Karena karya sastra memiliki peran untuk memperhalus budi berdasarkan pesan moral yang terdapat didalamnya yang sifatnya tidak menggurui.

Adapun langkah- langkah menulis cerpen adalah sebagai berikut.

1.      Kita hendaknya menemukan motivasi menulis dan siapa yang akan membaca tulisan kita.  

Mengapa harus memiliki motivasi menulis? Agar tujuan menulis kita menjadi terarah dan jelas. Dengan demikian, kita bisa menentukan apa yang akan kita tulis, apa yang akan diterima oleh pembaca nanti setelah membaca tulisan kita.Hal ini mengacu pada fungsi sastra sebagaimana disebutkan oleh Horace.

Mengapa kita harus menentukan sasaran? Hal ini berkaitan dengan bahasa yang nanti akan kita pakai dalam mengurai sebuah cerita. Misalnya sasaran kita adalah anak-anak, tentu gaya bahasa yang kita buat lebih sederhana agar mudah dipahami. Tentu akan berbeda dengan cerita yang ditulis untuk remaja dan orang dewasa.

2.      Menentukan tema, tokoh, dan alur.

Setelah menemukan motivasi menulis, tentu akan memudahkan kita untuk menentukan tema, alur dan tokohnya. Nah, tema yang ditulis ini bisa dikembangkan dengan merefleksi kondisi yang sedang kita alami saat ini.

Jika kita ingin menulis untuk dikirim ke sebuah media, hendaknya kita mencari tahu terlebih dahulu kualifikasi tema yang diminta suatu media itu seperti apa. Nah, untuk mengetahui itu tentunya temen-temen harus membaca karya-karya yang sudah di-publish oleh media yang kita tuju tersebut.

3.      Mulai menulis.

Dalam menulis ini kita bisa memilih menggunakan alur maju atau mundur. Tulislah secara mengalir terlebih dahulu. Disarankan peristiwa yang digambarkan adalah berdasarkan pengalaman yang pernah temen-temen alami, bisa pengalaman pribadi atau orang lain yang memang memiliki pesan moral untuk disampaikan, sehingga menuliskannya lebih mudah. Mengapa? Tentu kita akan lebih mudah mengingat sesuatu yang pernah kita alami atau peristiwa yang pernah diceritakan kepada kita daripada membayangkan sesuatu yang belum pernah kita alami sama sekali. Dengan catatan, setiap peristiwa yang kita bangun itu tidak semuanya pure sebagaimana aslinya, temen temen bisa mengemasnya dengan unsur imajinatif atau gaya bahasa untuk menambah sentuhan estetika.

4.      Baca ulang dan proses editing.

Dalam menulis, jangan bosan-bosan untuk membaca ulang karya yang sudah ditulis. Hal ini berguna untuk menyempurnakan tulisan. Kemudian, editing naskah juga sangat penting, mengapa? Oleh karena penyampaian karya disampaikan oleh media bahasa, maka kita juga harus memperhatikan aturan bahasa dengan baik, baik kata baku, kalimat efektif, hingga penggunaan tanda baca. Untuk tulisan berbahasa Indonesia, kita bisa mengacu ke PUEBI dan KBBI.

5.      Tambahan:Tips menulis

Yang perlu kita lakukan adalah sering-sering membaca karya sastra untuk menambah perbendaharaan kata dalam menulis. Kemudian, pembiasaan menulis hal-hal yang ringan, seperti kita mengisi buku diary, menarasikan kegiatan secara deskriptif. Yang dibutuhkan dalam proses menulis adalah konsisten. Semakin sering maka kita akan dapat mengukur peningkatan tulisan yang kita. Untuk penulisan karya fiksi, emosi sangat mempengaruhi tulisan. Usahakan emosi itu bisa tersampaikan kepada pembaca.

 

 

[Penjelasan di atas ditulis berdasarkan penyampaian materi oleh Yunda Rikha Ikke pada kegiatan pelatihan kepenulisan yang diadakan oleh bidang PP dan PPPA pada Hari Minggu, 23 Agustus 2020 secara daring]



 

 PELATIHAN KEPENULISAN

Penulisan Karya Ilmiah

 

            Merujuk pada apa yang telah dijelaskan oleh Yunda Fitri Wulandari pada kegiatan pelatihan kepenulisan pada tanggal 23 Agustus 2020 ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan menulis karya ilmiah. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika menulis karya ilmiah adalah sebagai berikut.

1.      Menentukan masalah penelitian

Cara menentukan masalah penelitian bisa dengan memperhatikan beberapa poin berikut.

*      Semua persoalan di dunia ini memerlukan kajian multidisipliner

*      Fokus pada persoalan scientific atau ilmiah

*      Tentukan persoalan beserta sudut pandangnya

2.      Membuat Judul

*      Judul dibuat ringkas, akurat, dan informatif

*      Judul dapat berupa pertanyaan atau pernyataan yang menarik perhatian pembac

*      Judul ditulis antara 8 sampai 14 kata

3.      Memperhatikan sistematika penulisan

Sistematika penulisan pada karya ilmiah berurut-urut adalah sebagai berikut:

·         Judul penelitian

·         Nama penulis dilengkapi asal instansi dan alamat email

·         Abstrak

·         Pendahuluan

·         Landasan teori

·         Pembahasan

·         Kesimpulan

·         Referensi

4.      Membuat abstrak

Tulislah abstrak yang efisien dan logis dengan memaparkan topik dan masalah yang akan diangkat. Lalu, sebutkan metode apa yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebutkan juga hasil dari pemecahan masalah. Akhiri dengan memberikan kesimpulan singkat dari langkah-langkah tersebut. Perlu diingat bahwa abstrak adalah bagian yang pertama muncul dalam karya ilmiah. Oleh karena itu, disarankan penulisannya persuasif, argumentatif dan konsisten.

5.      Menulis pendahuluan

Dalam menulis pendahuluan penting untuk:

·         menyampaikan urgensi topik penelitian dengan disiplin ilmu pengetahuan. Misanya, ketimpangan gender merupakan topik utama dalam bidang ilmu sosial dan budaya...,

·         menyampaikan urgensi topik secara global yang ada di masyarakat. Misalnya, pendidikan dapat memainkan peran penting dalam menyelesaikan permasalahan ketimpangan gender.

·         merumuskan urgensi topik sebagai sebuah masalah yang harus dipecahkan. Misalnya, ketimpangan gender merupakan masalah utama di Indonesia, dan disebabkan oleh...,

Selain itu perlu juga disampaikan:

¨      penelitian-penelitian terdahulu yang sudah ada

¨      menjelaskan hasil penelitian terdahulu

¨      mengidentifikasi kelemahan penelitian terdahulu

¨      mengidentifikasi kesenjangan penelitian

¨      merumuskan tujuan dan fokus penelitian

¨      menunjukkan urgensi dan penemuan baru penelitian

6.      Menulis metode penelitian

Dalam menulis metode penting untuk:

*      Menjelaskan metode penelitian yang digunakan sebelumnya

*      Menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan menggunakan metode yang sudah mapan. Misalnya, analisis didasarkan pada kerangka konseptual yang diajukan oleh Machasin.

7.      Menyusun hasil
Hasil penelitian ini bisa diletakkan ke dalam pembahasan. Dalam pembahasan sebaiknya menghindari kata-kata yang soft dan bertele-tele.

8.      Memberikan kesimpulan

Dalam menuliskan kesimpulan, kita bisa melakukan highlight pada bagian hasil yang menarik atau mengejutkan. Misalnya, menariknya korelasi antara A dan B berkaitan dengan..., atau bisa juga dengan meringkas hasil penelitian secara jelas. Misalnya, Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa...,
Selain itu, perlu juga disampaikan keterbatasan saat menyatakan temuan atau kontribusi serta memberikan rekomendasi untuk penelitian yang akan datang.

 

            [Penjelasan di atas ditulis berdasarkan penyampaian materi oleh Yunda Fitri Wulandari pada kegiatan pelatihan kepenulisan yang diadakan oleh bidang PP dan PPPA pada Hari Minggu, 23 Agustus 2020 secara daring]

 

 


PELATIHAN KEPENULISAN

Introduksi: Mengapa Menulis?

            Tulis-menulis adalah kecakapan esensial yang harus dimiliki oleh mahasiswa, terlebih untuk persiapan dalam penulisan skripsi sebagai syarat lulus sarjana. Biasanya, mahasiswa sudah diperkenalkan dengan kegiatan tulis-menulis dari tahun pertama perkuliahan, seperti diberikan tugas menulis makalah ataupun esai. Kendati demikian, menulis tidak hanya sebatas kegiatan akademis. Menulis teks pidato, puisi, cerpen ataupun novel juga merupakan kemampuan yang patut diapresiasi dalam pengembangan potensi diri mahasiswa.

 

            Selain membaca banyak buku, menulis karya tulis non-fiksi ataupun fiksi seharusnya menjadi kegiatan yang telah akrab dengan keseharian mahasiswa. Sayangnya, masih ada saja mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan dirinya lewat tulisan. Kebanyakan merasa ragu untuk menulis karena takut salah dan tidak sesuai dengan standar tulisan yang layak. Padahal, justru karena ketidakmampuan itulah kita harus perbanyak menulis. Bisa karena terbiasa. Kebiasaan menulis inilah yang akan membuat kita bisa menulis dengan baik sekaligus mendapatkan manfaat-manfaat lainnya.

            Menurut Bernard Percy di dalam bukunya The Power of Creative Writing, setidaknya terdapat enam manfaat kegiatan menulis, di antaranya sebagai:

 a.   Sarana pengungkapan diri

b.      Sarana untuk memahami sesuatu

c.       Sarana untuk mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, dan rasa harga diri

d.      Sarana untuk meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan sekeliling

e.       Sarana untuk melibatkan diri dengan penuh semangat

f.       Sarana untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan mempergunakan bahasa

**

            Sebagai wadah yang juga bertujuan mengembangkan potensi, Bidang PP dan PPPA HMI Komisariat Adab telah mengadakan pelatihan kepenulisan secara daring. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 23 Agustus 2020 melalui grup Whatsapp. Kegiatan hasil kerja sama bidang Pemberdayaan Perempuan dan Penelitian Pembinaan dan Pengembangan Anggota ini diisi oleh dua orang Kohati Komisariat Adab yang berprestasi di bidang kepenulisan, yaitu Yunda Fitri Wulandari dan yunda Rikha Ikke.

            Adapun kegiatan ini terbagi menjadi dua sesi, yaitu:

1. Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah

2. Pelatihan Penulisan Karya Fiksi

 

 

 

Jumat, 12 Juni 2020



Budaya Kuno di Tengah Generasi Milenial
 (Oleh: Raodah)

Permasalahan yang berkaitan dengan perempuan merupakan isu lama yang masih terus diperbincangkan dengan harapkan dapat diselesaikan. Diskursus tentang perempuan tetap aktual dan terus didiskusikan mengingat masih banyak ketidak adilan yang masih bertahan dimasyarakat sampai sat ini. Permasalahan yang berkaitan erat dengan perempuan disebabkan oleh dua faktor yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternalnya realitas sosial, politik dan ekonomi global yang masih berpihak pada pelestarian budaya patriarki. Faktor internalnya antara lain dari sisi umat islam yang masih terjebak dalam pemahaman doktrin ajaran yang bias gender, doktrin agama yang bias gender masih dilestarikan untuk kepentingan dalam menguasai beberapa pihak.

Untuk mengetahui  apa dan bagaimana bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan adalah perbuatan berdasarkan jenis kelamin yang memberikan dampak negatif,  seperti penderitaan terhadap perempuan secara fisik, seksual atau psikologis. Bentuknya bisa berupa ancaman, pemaksaan, perampasan hak secara sewenang-wenang baik itu dimuka umum maupun secara tertutup

Dalam sejarah manusia, perempuan sudah sejak lama menerima perlakuan bias gender. Masa Yunani kuno perempuan dipandang sebagai fasilitas kenikmatan seksual. Masa Romawi perempuan dapat diperjualbelikan. Pada peradaban India perempuan tidak memiliki hak hidup setelah suaminya meninggal, ia diharuskan ikut membakar dirinya bersama jasad suaminya. Lalu pada masyarakat Arab jahilia beberapa suku pada masa itu beranggapan bahwa memiliki anak perempuan merupakan aib dan musibah, sehingga banyak kasus penguburan bayi perempuan. Dan sampai hari ini bias gender terhadap perempuan masih terus terjadi. 

Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak yang belum tahu bahwa beberapa hal yang mereka lakukan merupakan manifestasi dari ketidak adilan gender terhadap perempuan. Berikut ini merupakan uraian bentuk-bentuk manifestasi ketidak adilan gender yang masih melekat dalam masyarakat.
1.      Stereotip
Stereotip adalah labelisasi negatif yang diberikan kepada perempuan dalam konteks hubungan sosial dengan laki-laki. Stereotip atau stereotype cenderung merugikan perempuan seperti anggapan bahwa perempuan adalah mahluk yang lemah secara fisik dan intelektual sehingga tidak bisa diangkat menjadi pemimpin dan hanya cocok diranah domestik. Perempuan adalah mahluk yang suka bersolek dan menjadi sumber perbuatan yang melanggar norma dalam masyarakat.
2.      Marginalisasi
Marginalisasi terhadap perempuan terjadi diranah domestik maupun publik. Ditempat kerja bentuk marginalisasi yang paling sering terjadi adalah perbedaan upah terhadap tenaga kerja laki-laki dan perempuan. Dalam ranah domestik dibeberapa masyarakat lebih mementingkan pendidikan bagi anak laki-laki dari anak perempuan. Contohnya dalam masyarakat Lamaholot Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, anak laki-laki mendapatkan hak yang sangat banyak yaitu hak berbicara dan mengeluarkan pendapat, menerima warisan, hak untuk mendapatkan kebutuhan sandang, pangan dan papan, serta hak untuk memperoleh pendidikan. Lalu bagaimana dengan anak perempuan, hak apa saja yang diperoleh perempuan baik hak dia sebagai anak, istri maupun sebagai individu dalam masyarakat. Perempuan dalam suku Lamahotol menjalankan kewajiban yang besar namun menerima hak yang sangat sedikit. Ada kesenjangan yang besar yang diterima oleh perempuan dalam suku tersebut, dimana perempuan tidak memiliki hak berbicara atau menyampaikan pendapat, tidak memiliki hak waris, juga tidak diperioritaskan dalam kebutuhan sandang, pangan maupun papan, tetapi disisi lain tugas domestik menjadi tanggung jawabnya baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat ritual adat. Anak perempuan tidak memperoleh pendidikan, masyarakat suku Lamahoto menganggap bahwa memberikan pendidikan kepada anak perempuan adalah sebuah kerugian karena setelah menikah anak perempuan akan masuk kedalam suku suaminya.
3.      Subordinasi
Subordinasi lahir dari bias gender yang menempatkan perempuan tidak lebih penting dari laki-laki. Hal ini bisa dilihat dari seringnya muncul anggapan bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin dengan alasan bahwa perempuan itu emosional atau irasional. Anggapan tersebut berakibat pada tidak diakuinya potensi perempuan dalam lingkungan kerja, sehingga perempuan mengalami kesulitan dalam memperoleh posisi strategis dan sentral dalam komuninas dan pengambilan keputusan.
4.      Violence
Violence merupakan kekerasan yang muncul dari pandangan bias gender yang menempatkan salah satu jenis kelamin lebih superior (laki-laki) dari perempuan yang dianggap inferior. Dampak dari bias gender ini dimana laki-laki menggunakan kekerasan untuk menunjukan dominasinya terhadap perempuan. Banyak kekerasan yang timbul dalam masyarakat yang menunjukan dominasi tersebut antara lain pemerkosaan, pemukulan, kekerasan terselubung, pelecehan seksual dan sterilisasi dalam keluarga berencana. Sadar atau tidak sterilisasi dalam keluarga berencana  merupakan salah satu bentuk dari kekerasan yang diterima perempuan. Menunda kelahiran dengan memasang alat atau menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan bukan hanya keharusan bagi perempuan atau istri tetapi juga bagi laki-laki atau suami. Namun dikalangan masyarakat patriarki hal tersebut menjadi keharusan bagi perempuan atau istri dan laki-laki atau suami tidak diharuskan memasang alat kontrasepsi.
5.      Beban ganda
Beban ganda dialami oleh perempuan yang bekerja diranah publik. Perempuan yang sudah bisa mengakses dunia luar seperti bekerja di sektor publik mereka juga dibebankan oleh pekerjaan domestik. Dalam hal ini pekerjaan rumah seolah-olah menjadi kewajibannya, sehingga walaupun perempuan bekerja sebagai pegawai dan sejenisnya dia juga harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, nyapu, ngepel, masak dan lain sebagainya. Beban ganda masih banyak terjadi dilingkungan masyarakat baik yang terpelajar maupun maupun tidak. 

Ditengah masyarakat milenial hal-hal bias gender tersebut masih sering terjadi. Lalu apa yang membedakan masyarakat milenial dengan masyarakat jaman dahulu yang dari segi ilmu pengetahuna dan teknologi kita jauh lebih maju, dan konon katanya generasi milenial hampir seluruhnya melek teknologi. Dari uraian singkat diatas membuktikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak benar-benar menjamin orang bisa berlaku adil gender dalam praktik kehidupannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak benar-benar membuat orang bisa keluar dari zona nyaman budaya patriarki, dari sini kita paham bahwa belajar tanpa dibarengi dengan niat ingin keluar dari budaya buruk tidak bisa dijadikan standar, bahwa generasi milenial adalah generasi yang bisa menghapus jejak peradaban jahilia. Dari urain diatas justru generasi ini masih dibayangi, dan masih terbelenggu dengan budaya-budaya kuno yang dibungkus dengas kofer modern. Untuk itu perlu diberikan pendidikan adil gender sejak dini. 

Berikut beberapa hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pendidiakn dalam penanganan bias gender sejak dini.

Memberikan pendidikan adil gender pada anak sejak dini. Pendidikan adil gender bisa diterapkan mulai dari lini terkecil yaitu keluarga dengan cara memberikan hak yang sama kepada anak laki-laki dan perempuan dalam memperoleh pendidikan. Kemudian memberikan kebebasan anak untuk memilih permainannya dan cara bermainnya. Tanpa harus diarahkan seperti, anak perempuan harus bermain masak-masak atau boneka dan anak laki-laki bermain sepak bola atau bermain dengan menggunakan robot. Melatih anak laki-laki dan perempuan untuk mengerjakan pekerjan domestik dan saling bertukat pekerjaan, dengan memberikan penjelasan dan pemahaman sesuai dengan usia masing-masing anak. Dengan pemahaman dan pendidikan sejak dini dapat mengantisispasi terjadinya perilaku bias gender ketika anak-anak dewasa dalam hal melaksanakan tugas domestik. Membebaskan anak untuk berkreativitas sesuai dengan pengetahuan dan bakat. Memberikan penjelasan bahwa bertukar peran sosial bukan suatu hal yang salah sehingga ketika mereka dewasa dan hidup berkeluarga menjadi terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tanpa menganggap bahwa pekerjaan tersebut adalah pekerjaan perempuan saja. Penjelasan dan pemahaman seperti itu dapat membangun masyarakat harmonis, terbuka dan lebih maju karena setiap orang bisa mengembangkan kreatifitas masing-masing sesuai bakat dan kemampuannya. Laki-laki dan perempuan tidak dibatasi ruang geraknya dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keahliannya. Dengan adanya peran gender yang seimbang pemanfaatan sumber daya manusia bisa lebih produktif.

Sumber
Mansour Fakih. 2013. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Dodhy Hyronimus Ama Longgy. Budaya Patriarki Dan Pendidikan Anak Perempuan (Studi Pada Budaya Lamaholot Di Waipukang Nusa Tenggara Timur). Diakses dari laman https://core.ac.uk/download/pdf/33529093.pdf
Mariatul Qibtiyah Harun AR. Rethinking Peran Perempuan Dalam Keluarga . Diakses pada laman file:///C:/Users/Asus/Downloads/RETHINKING_PERAN_PEREMPUAN_DALAM_KELUARGA.pdf
Agung. Hindarkan Pendidikan Bias Gender pada Anak. Diakses pada laman https://ugm.ac.id/id/newsPdf/3546-hindarkan-pendidikan-bias-gender-pada-anak



Tulisan di atas adalah karya salah seorang anggota Kohati Komisariat Adab sebagai bentuk peningkatan budaya literasi.
Kindly get updates from us on our instagram account @kohatiadab  
Baca lainnya:
Semarak Hari Kartini
Kohati Adab
Merajut Pribadi Muslimah Insan Cita